Minggu, 01 Januari 2012

2011-nya Indonesia


Assalamualaykum wr wb

Sungguh tak terasa sekarang kita sudah menginjak penghujung tahun 2011 ini. Tentu saja ada banyak hal yang telah kita lewati bersama di negeri ini. Sayangnya, dari berbagai peristiwa yang dilalui, kebanyakan peristiwa adalah fakta miris kondisi rakyat yang masih jauh dari kata sejahtera.

Tahun yang kian bertambah bukan lantas bertambah pula lahan pekerjaan yang tersedia bagi rakyat negeri ini. Sebaliknya, justru angka pengangguranlah yang makin melesat seiring berjalannya waktu. Menurut data kadin, jumlah tambahan tenaga kerja baru pertahunnya mencapai 2,91 juta orang sedangkan lahan pekerjaan yang tersedia hanya 1,61 juta. Belum lagi, hutang negeri ini yang saat ini mencapai Rp 1.768 triliun yang sungguh menambah berat beban. Rakyat miskin pun kini seolah terserak. Padahal, negeri ini adalah negeri yang kaya. Salah satu buktinya, kita memiliki tambang emas di Papua, ya sayangnya pengelolaan dan tentu keuntungannya yang dapat mencapai Rp 198 triliun per tahun 2004-2008 pun tak pernah sampai di tangan kita.

Lebih ironis lagi, negeri yang kaya ini kaya akan tindak korupsi. Korupsi seolah menjadi penyakit epidemic yang terus menyebar dan mengakar di berbagai instansi dan lembaga. Contoh kecilnya saja, korupsi yang dilakukan oleh Nazarudin, sang bendahara parpol ternama di negeri ini. Belum lagi kasus korupsi di Kemenakertrans, korupsi wisma atlet SEA GAMES Palembang, mafia anggaran di DPR, dan banyak kasus korupsi kepala daerah, hakim, dan jaksa.

Pil pahit negeri ini pun ditambah dengan adanya undang-undang yang akhirnya mengancam kebebasan rakyat. Ya, undang-undang intelijen yang sudah disahkan beberapa bulan lalu mempersilahkan adanya penyadapat, pemeriksaan rekening, dsb oleh pihak intelijen. Namun, ketika itu melanggar privasi tidak ada mekanisme pengaduan untuk meminta privasi atau keadilan. Ditambah dengan digulirkannya rencana pembuatan undang-undang (RUU) yang masih tidak bersahabat dengan rakyat seperti RUU Perguruan Tinggi, RUU Pangan, dsb.

Menambah perih negeri ini, dipenghujung tahun kita dihadiahi berbagai konflik internal, mulai dari panasnya Papua. Gejolak di sana yang awalnya dimulai dari bentrok akibat perebutan kekuasaan dalam pilkadayang menelan kurang lebih 20 korban jiwa, kemudian mogok kerja PT Freeport Indonesia yang berujung bentrok kemudian menelan 2 orang korban jiwa, disusul aksi OPM yang tak kalah dengan menewaskan 12 korban tewas. Sayangnya, tak ada tindak tegas atas semua ini. Pemerintah justru disibukkan dengan isu deradikalisasi sampai-sampai berani menyokong dengan dana Rp 400 miliar lebih. Isu yang banyak muatan asing ini bertujuan untuk menghilangkan makna radikal itu sendiri yang konon berarti kembali pada syariat Islam dan menganggap Amerika sebagai biangnya keburukan. Makna ini justru akhirnya terlihat jelas lebih menyokong kuat kedudukan asing di negeri ini.

Sejuta kepenatan di atas mungkin menggambarkan kesemrawutan di negeri ini. Harus menyalahkan siapa? Setiap pemilu, kepala Negara pun diganti. Namun, tetap saja benang kusut di negeri ini semakin kusut saja. Setiap negeri yang aturannya jauh dari kebaikan dan tidak bersumber dari sang Maha Pencipta, Allah SWT, pasti tidak akan pernah berbuah manis. Layaknya rezim Mesir, Libya, atau Suriah yang akhirnya tersungkur tumbang. Maka kita sebagai penduduk negeri ini dan khususnya para pembaca KOMPAS tentu ingin lepas dari berbagai benang kusut yang membelit kita. Maka sudah saatnya kita memilih sebuah system dan rezim yang baik serta seorang pemimpin yang amanah. Sebuah system aturan yang baik, pastilah datang dari Dzat Maha Baik. Itulah syariat (sitem aturan) dari Allah SWT serta pemimpin amanah adalah seseorang yang tentu tunduk pada system yang baik tersebut. Marilah selamatkan Indonesia dengan Syariah! Karena memang hanya dengan system berdasarkan syariah plus menegakkan khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah (pemimpin) yang amanah, Indonesia akan benar-benar bisa menjadi lebih baik.

By Auliadejourn ^^

Selasa, 14 September 2010

taqaballahu minna wa minkum


saya, Dyah Kania dan segenap CREWnya Auliadejourn mengucapkan TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM MAAF LAHIR DAN BATIN



btw.. maaf juga karena blognya sempat menghilang beberapa hari alias inactive karena sekarang lagi liburan dan akses ke internet kurang..

segitu dulu ajah yah... yu ah^^

salam

Selasa, 24 Agustus 2010

merdeka?

Bismillahirrahmanirrahiim..

Indonesia, Merdeka Untuk Siapa?!


Seperti yang pasti kita ketahui, saat ini Indonesia meninjak usia 65th. Tentulah bukan usia yang muda lagi. Namun ada satu hal yang mengganjal untuk negeri yang sudah merdeka ini. Yakni, apakah kita sudah benar2 merdeka?

Dengan hutang luar negri ribuan triliun rupiah, tentu dari aspek ekonomi, Indonesia jelas jauh dari kata sejahtera, apalagi merdeka. Belum lagi, ketidak-adilan hukum bagi rakyat, sbg bukti bhw hanya kalangan ttntu saja yg merdeka. jangankan merdeka, rakyat pun jauh dari kata sejahtera

Lalu bagaimana caranya agar kita terlepas dari keterjajahan negeri dan menuju kemerdekaan hakiki?

Jika kita mau jujur, akar masalah dari semua persoalan di atas ada pada sistem kehidupan yang dipakai oleh Indonesia. Selama 65 tahun “merdeka” negeri ini mengadopsi sistem demokrasi-sekular. Demokrasi pada akhirnya hanya menjadi topeng penjajahan baru atas negeri ini. Pasalnya, melalui sistem dan proses demokrasilah lahir banyak UU dan kebijakan yang justru menimbulkan keterjajahan rakyat di negeri ini. UU KHUP masih warisan penjajah. UU SDA sangat liberal. Demikian pula UU Migas, UU Minerba, UU Kelistrikan, UU Pendidikan, UU Kesehatan dan banyak lagi UU lainnya. Sebagian besar UU yang ada bukan saja tak berpihak kepada rakyat, bahkan banyak yang menzalimi rakyat. Pasalnya, melalui sejumlah UU itulah, sebagian besar sumberdaya alam milik rakyat saat ini justru dikuasai pihak asing. Contoh, kekayaan energi termasuk migas (minyak dan gas) di negeri ini saat ini 90%-nya telah dikuasai perusahaan-perusahaan asing.

Jelas, rakyat negeri ini sesungguhnya masih terjajah oleh negara-negara asing lewat tangan-tangan para pengkhianat di negeri ini. Mereka adalah para komprador lokal yang terdiri dari para penguasa, politikus, wakil rakyat dan intelektual yang lebih loyal pada kepentingan asing karena syahwat kekuasaan dan kebutuhan pragmatisnya. Akibatnya, rakyat seperti “ayam mati di lumbung padi”. Mereka sengsara di negerinya sendiri yang amat kaya. Mereka terjajah justru oleh para pemimpinnya sendiri yang menjadi antek-antek kepentingan negara penjajah.

Maka saya sebagai seseorang yang ingin lepas dari penjajahan ini, mengajak Anda, khususnya para pembaca harian Seputar Indonesia dan umumnya seluruh penduduk negri, untuk bersama-sama beralih dari sistem sekular ini ke satu sistem yg tepat, yakni Syariah Islam dalam Naungan Daulah Khilafah Islam. Sungguh hanya dengan aturan dari Allah-lah kita akan benar-benar merdeka. InsyaAllah..

Wallahu a’lam bish shawab.

Jumat, 06 Agustus 2010

salute

anyong haseo!! dyah imnida..

ini blog saya yang baru.. see? masih KOSONG melongpong..

insyaAllah kedepannya akan ada tulisan2 aspiratif
asik
yang saya tulis di blog tercinta ini..

wassalamualaikum ^^